Butir Hujan

Butiran hujan turun dari talang betung atap rumahmu

Membentuk tali dan menyerupai ular yang setiap

Malam mematuk tidurmu. Kau tak juga sadar bahwasanya

Butiran hujan itu menginginkan sebuah cembung untuk

Kau tampung, agar senantiasa ia terungguk dengan

baik, agar ia bisa kau tanak bersama beras, agar ia bisa kau

gelegakan bersama daun pucuk ubi, agar ia menjadi uap

dan bisa kau lesatkan ke dalam buah merah pedas

mungkin saja kau akan dililit ular tiap malamnya sampai

kau menjadi seorang tua dan renta-ular yang merupakan

penjelmaan dari butiran hujan yang tak kunjung kau maknai

di setiap gerakmu. Sebab ia senantiasa berkunjung pada

kesalmu. Kesal pada dingin sebagai penabuh daging sintalmu

dan karena itulah kau tak ingin memaknai hadirnya. Tiap kali

butir hujan itu merengsek turun dari talang atap rumahmu

kau selalu menolehkan muka ke arah lain agar kau tak

melihat gambaran kesedihan yang terpendam di ricik

bunyinya. Bunyi yang jatuh tertimpa dengan kulit tanah

Kandangpadati, 2008

Oleh ESHA TEGAR PUTRA

Sumber kompas, minggu, 23 november 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: